Skip to content Skip to left sidebar Skip to right sidebar Skip to footer

Sejarah

Terbentuknya Kerajaan-Kerajaan Dan Kulano Di Tampunganglawo

Adapun sebagai Kulano (Raja) yang pertama sekali di Tampunganglawo (Pulau Sangihe) adalah bernama Gumansalangi mempunyai istri bernama Ondoasa yang disebut juga Sangiangkonda atau Kondowulaeng.

Gumansalangi adalah seorang Putra Mahkota dari Sultan di Kotabato (Mindanao Selatan) akhir abad ke XII. Menurut pesan ayahnya, bahwa Gumansalangi bersama dengan istrinya Ondaasa, keduanya harus pindah dari Kotabato dengan maksud supaya mereka dapat mendirikan Kerajaan baru disebelah Timur.

Untuk mematuhi perintah ayahnya, maka keduanya berangkat dari Kotabato dengan memakai Perahu ULAR SAKTI singgah di Wiarulung (Pulau Balut), kemudian menuju arah selatan sampai di Pulau Mandolokang (Tagulandang), dan di Pulau ini mereka tidak turun, langsung melewati Pulau Siau, terus ke Tampunganglawo yaitu di Tabukan Selatan. Dalam perjalanan ini ikut pula saudara laki-laki dari Andoasa yang bernama Pangeran Bawangunglara.
Di Tabukan Selatan mereka turun mendarat di sebuah tempat yang disebut Pantai Saluhe. Oleh karena Gumansalangi adalah seorang Kulano atau Raja, maka tempat mereka mendarat itu berubah namanya oleh penduduk disitu menjadi SALUHANG yang berarti dielu-elukan dan dipelihara supaya ia bertumbuh dengan baik dan subur.
Dari kata SALUHANG kemudian diubah menjadi SALURANG hingga sekarang.

Pada abad ke XIII atau Tahun 1300 Masehi, mereka mendirikan sebuah Kerajaan baru di Salurang dan wilayahnya sampai di Marulang.

Setelah Kerajaan Salurang telah berdiri dengan baik, maka Pangeran Bawangunglaro dengan perahu ULAR SAKTInya berangkat lagi melanjutkan perjalanannya kearah Timur Laut dan ia sampai di Talaud yaitu di Pulau Kabaruan pada salah satu tempat yang mulai sejak itu tempat tersebut diberi nama Pangeran sampai sekarang.

Setelah keberangkatan Bawangunglaro ke Talaud, Gumansalangi bersama istrinya tidak menetap lagi di Salurang, dan tempat itu hanya dijadikan Pusat Pemerintahan saja. Keduanya pindah ke Puncak Gunung Sahendarumang dan menetap disana.
Setelah keduanya berada di tempat ini maka selalu kedengaran bunyi guntur dan sinar cahaya kilat yang memancar dari Puncak Gunung itu, sehingga Gumansalangi diberi nama MEDELLU yang berarti GUNTUR yang berbunyi dan Ondaasa diberi nama MEKILA yang berarti KILAT yang bercahaya dan sampai saat ini kedua nama tersebut sudah tidak diubah lagi. Gumansalangi dan Ondaasa mempunyai 2 orang anak yaitu Melintang Nusa dan Meliku Nusa.

Setelah kedua anaknya menjadi dewasa, maka Pemerintah Kerajaan Salurang diserahkan kepada anaknya yang sulung yaitu Melintang Nusa dalam Tahun 1350, sedangkan anaknya yang bungsu yaitu Meliku Nusa pergi mengembara ke Selatan dan sampai di Bolaangmangondow, ia menikah dengan Menongsangiang (Putri Bolaangmangondow) dan ia menetap disana sampai meninggal.

Melintang Nusa pada masa pemerintahannya ia sering kali mengunjungi Mindanao Selatan, hingga akhirnya pada Tahun 1400 ia meninggal di Mindanao juga.

Sesudah Tahun 1400 Kerajaan Tampunganglawo terbagi menjadi 2 bagian yaitu bagian Utara bernama Sahabe (Lumango) dan bagian Selatan bernama Manuwo (Salurang).

Setelah Tahun 1530 kedua Kerajaan ini kembali dapat dipersatukan lagi oleh Raja Makaampo (Makaampo Wawengehe) dengan wilayahnya mulai Sahabe, Kuma, Kuluhe, Manalu, Salurang sampai ke Lapango, dan Kerajaan ini disebut RIMPULAENG dengan Pusat Pemerintahannya di Salurang (Moade) dan berakhir sampai Tahun 1575, karena Makaampo sudah dibunuh oleh Ambala seorang Pahlawan dari Mantelagheng (Tamako) dan saat itu ia ditemani oleh Hengkeng U Naung Pahlawan dari Siau yang disuruh oleh Raja Siau bernama Pontowuisang (1575-1612).
Setelah berakhirnya masa kejayaan Rimpulaeng, kemudian di Tampunganglawo timbul lagi 3 buah Kerajaan seperti :
– Kerajaan MALAHASA berpusat di TAHUNA (BUKIDE), dengan Rajanya ANSAAWUWO yang disebut juga TATEHE atau TATEHEWOBA (1580-1625).
– Kerajaan MANGANITU berpusat di Kauhis, dengan Rajanya Boo atau disebut juga LIUNG TOLOSANG (1600-1630).
– Kerajaan KENDAHE berpusat di Makiwulaeng, dengan Rajanya EGALIWUTANG (1600-1640).

Pada masa Pemerintahan Raja-Raja tersebut diatas, Bangsa-Bangsa Penjajah sudah mulai masuk di Daerah Sangihe dengan menyebarkan Agama Kristen yaitu orang-orang Portugis dan Spanyol, serta Pendeta-Pendeta Belanda yang ikut bersama V.O.C.
Bangsa-Bangsa tersebut masuk pertama kali di Siau pada Tahun 1604 kemudian di Pulau Sangihe pada Tahun 1616 dan di Pulau-Pulau Talaud pada Tahun 1989.

CERITA GUMANSALANGI

Untuk mendalami kebudayaan sangihe, sebaiknya memahami sastra lisan sangihe, sastra lisan sangihe adalah salah satu bukti peninggalan kebudayaan sangihe masa lalu yang masih dilestarikan sampai saat ini. Dari beberapa sastera lisan sangihe yang paling melegenda adalah cerita Gumansalangi. Dari cerita tersebut kita dapat melihat keberadaan sangihe dari penduduk mula-mula sampai terbentuknya kerajaan-kerajaan yang menjadi dasar terbentuknya sebuah suku yang dinamakan suku sangihe. Kisah Gumansalangi sebagai penduduk mula-mula tergambar secara utuh dalam “Tamo” karena tamo telah menjiwai kelahiran sangiang konda sebagai ibu dari orang-orang sangihe. Cerita Gumansalangi dan pembentukan kerajaan sudah ditulis banyak orang meskipun hanya dalam tulisan-tulisan lepas, bukan dalam sebuah buku yang sangat lengkap.

Ada banyak tulisan yang dilengkapi dengan tahun kejadian, tetapi belum bisa diakui karena semua cerita tentang Gumansalangi, tidak pernah dibukukan dimasa lalu sehingga terjadi kesimpangsiuran. Mungkin cerita lengkap tentang Sangihe boleh ditelusuri di Belanda untuk mandapatkan kepastian yang lebih ilmiah dan dapat diakui oleh publik yang lebih luas.

Seperti pepatah mengatakan “tak ada rotan akarpun jadi”. Kita sebagai generasi baru tidak bisa lagi menunggu “pemerintah” untuk mendanai penelitian dan penulisan tentang sejarah dan kebudayaan sangihe secara komprehensip. Karena lebih banyak orang sangihe “ndak” mau peduli, dari pada yang terpanggil untuk berbuat menggali kekayaan budaya.

Tokoh Gumansalangi sudah diceritakan berabad-abad lamanya di kepulauan sangihe melalui cerita lisan dari generasi kegenerasi secara turun-temurun. Sejak masuknya bangsa Eropa, cerita Gumansalangi mulai ditulis oleh para budayawan, sejarahwan dan pemerhati sejarah dan kebudayaan sangihe lainnya dalam bentuk tulisan-tulisan lepas.

Cerita Gumansalangi pertama kali diterjemahkan Desember 1993 di Biola University – Los Angles. Kisah Gumansalangi terbaru ditulis oleh Kenneth R. Maryott, seorang berkebangsaan Amerika yang bekerja sebagai dosen bahasa Inggris di Philliphin dalam buku yang berjudul “ Manga wĕkeng Asaļ ‘u Tau Sangihĕ “. Buku tersebut ditulis dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Sangihe,bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, diterbitkan oleh “ The Committee For The Promotion Of The Sangir Language, Davao – Phillphiness, 1995. Kenneth bertindak sebagai editor, berdasarkan penuturan dari Bapak Haremson E. Juda. Disamping itu terdapat juga cerita tentang Makaampo. Cerita Makaampo pertama kali ditulis dan dipublikasikan dengan judul “Bĕkeng Makaampo (The Story of Makaampo)” dari artikel journal “Majalah Bijdragen tot de taal,- Land – en Volkendkunde, Volume 113 (1957)

Cerita Gumansalangi berasal dari kepulauan Sangihe Talaud, yang diceritakan sebagai folklore atau cerita rakyat. (Folklore adalah unsure kebudayaan dari masa silam yang menuju ke ambang kepunahan). Banyak cerita yang berkembang di kepuluan sangihe tentang Gumansalangi tetapi intinya berkisah tentang penduduk sangihe pertama. Permasalahannya adalah Siapa dan dari mana asal Gumansalangi yang sebenar – benarnya. Sampai kapanpun tidak akan mungkin ditemukan kebenaran secarah ilmiah siapa Gumansalangi. Penyebabnya adalah belum ditemukan bukti melalui naskah kuno atau prasasti yang menulis atau memberikan gambaran tentang kehidupan Gumansalangi. Hal ini terjadi juga pada beberapa folklore lain disulawesi utara seperti cerita Toar dan Lumimuut dari Minahasa, cerita Gumalangi dan isterinya Tendeduata penghuni pertama Bolaang Mongondow, cerita seperti ini tetap menjadi legenda.

Kenapa cerita Gumansalangi memiliki banyak bentuk,dari alur cerita maupun kesesuaiannya dengan sejarah Sangihe. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu : Cerita Gumansalangi merupakan sastera lisan, yang hanya diceritakan dari mulut ke mulut, keadaan ini memungkinkan terjadinya berbagai perubahan. Perubahan dapat terjadi berdasarkan siapa yang pertama mengisahkan, siapa yang mendengarkan, kepada siapa kisah itu diturunkan dan dilingkungan apa cerita itu dikembangkan.

Berdasarkan beberapa cerita yang berkembang dimasyarakat sangihe terdapat beberapa cerita berdasarkan tempat dimana cerita itu berkembang diantaranya ; Cerita Gumansalangi versi Siau, Cerita Gumansalangi versi Talaud, Cerita Gumansalangi versi pulau Sangihe besar. Dikalangan orang sangihe sendiri terdapat beberapa bentuk, seperti versi cerita Gumansalangi dari orang-orang yang ada di bekas kerajaan Tabukan dan diluar kerajaan Tabukan. Diantara beberapa versi tersebut dapat dipaparkan beberapa versi yang memiliki perbedaan.

a. Versi pertama (versi siau)
Gumansalangi adalah kulano pertama di Pulau Sangihe besar. Gumansalangi bersiteri Ondaasa yang disebut juga Sangiangkonda atau Kondawulaeng. Gumansalangi adalah Putera Mahkota dari kesultanan Cotabato,Mindanao Selatan akhir abad ke XII. Mereka diperintahkan untuk pergi ketimur oleh ayah Gumansalangi dengan maksud supaya mereka dapat mendirikan kerajaan baru. Berangkatlah mereka dengan menunggangi ular terbang sampai ke Pulau Marulung (pulau balut), kemudian keselatan menuju pulau Mandolokang (pulau Taghulandang) dipulau ini mereka tidak turun tetapi melanjutkan perjalanan ke pulau lain melewati pulau Siau dan turun di pulau Sangihe besar.

Dalam perjalanan, ikut pula saudara laki-laki dari Kondaasa bernama Pangeran Bawangunglare. Mereka lalu mendarat di pantai Saluhe. Dikemudian hari nama Saluhe berubah menjadi Saluhang dan kini menjadi Salurang.

Karena Gumansalangi adalah seorang bangsawan maka tempat tersebut dinamakan Saluhang yang berararti ”dieluk-elukan” dan dipelihara supaya dia bertumbuh dengan baik dan subur. Sejak kedatangan Gumansalangi dan Kondaasa di saluhe, selalu saja terdengar gemuruh dan terlihat kilat yang datang dari gunung. Gumansalangi lalu diberikan gelar Medellu yg berarti Guntur dan Kondaasa diberikan gelar Mengkila yang berarti cahaya kilat. Gumansalangi dan Kondaasa memiliki dua orang putra bernama Melintangnusa dan Melikunusa.

Gumansalangi lalu mendirikan kerajaan pada tahun 1300. Wilayah kerajaannya sampai ke Malurung (Pulau Balut / Philliphina).Saudara laki-laki Kondaasa melanjutkan perjalanan ke kepulauan Talaud tepatnya di pulau Kabaruan. Sampai saat ini tempat yang pertama kali diinjak oleh Pangeran Bawangunglare, dinamakan Pangeran.

Gumansalangi menyerahkan waris raja kepada anaknya yang sulung Melintangnusa pada tahun 1350. Anak bungsu Melikunusa mengembara ke Mongondow dan memperisteri Menongsangiang putri raja Mongondow. Melikunusa meninggal di Mongondow sedangkan Melintangnusa meninggal di Philliphina pada tahun 1400. Sesudah wafatnya Malintangnusa, kerajaan terbagi dua yaitu kerajaan Utara bernama Sahabe atau Lumage dan kerajaan Selatan bernama Manuwo atau Salurang. (dari beberapa catatan lepas pemerhati sejarah sangihe).

b. Versi kedua
Terbentuknya kerajaan pertama Sangihe berakar dari cerita tentang Gumansalangi. Humansandulage beristeri Tendensehiwu dan memperanakan Datung Dellu. Datung Dellu bersiteri Hiwungelo dan memperanakan Gumansalangi.

Gumansalangi, setelah mempersunting Ondaasa berlayar dari Molibagu melalui pulau Ruang,Tagulandang,Biaro,Siau terus ke Mindanao kemudian kepulau Sangihe, mereka tiba di Kauhis lalu mendaki Gunung Sahendarumang dan berdiam disana sampai terbentuknya kerajaan Sangihe pertama bernama Tampungang Lawo pada tahun 1425.( Iverdikson Tinungki dalam tabloid Zona utara )

c. Versi ketiga
Gumansalangi adalah anak seorang raja dari sebuah kerajan kecil diwilayah Philiphina bagian selatan. Ibunya meninggal ketika Gumansalangi masih kecil. Raja kemudian menikah lagi dengan perempuan lain dan melahirkan seorang puteri. Pada suatu pesta sang puteri atas perintah ibunya mempengaruhi Raja dengan sebuah permintaan dan berkata ”harta kekayaan tak penting bagiku yang kuinginkan adalah agar Ayah dapat membunuh Gumansalangi. Permintaan ini dilakukan agar tahta kerajaan tidak jatuh ketangan Gumansalangi.

Keinginan itu diketahui oleh Batahalawo dan Batahasulu atau Manderesulu orang sakti kerajaan pengikut Gumansalangi, mereka lalu meberitahukan rencana itu pada Gumansalangi. Batahalawo kemudian melemparkan ikat kepala ( poporong ) kelaut yang kemudian menjelmah menjadi Dumalombang atau ular naga besar. Dumalombang membawa terbang Gumansalangi dan tiba di Rane dan tebing Mênanawo lalu mengitari bukit Bowong Panamba,Dumêga dan Areng kambing. Setibanya ditempat yang baru, setiap malam Gumansalangi hanya mendengarkan suara burung pungguk atau Tanalawo, arti lain dari Tanalawo adalah Pulau Besar.
Pada suatu senja digubuknya kedatangan seorang nenek yang memerlukan tempat berteduh. Malam berikutnya dia didatangi lagi seorang gadis cantik. Dua persitiwa membingungkan hati Gumansalangi. Disaat tenang terdengar suara yang berkata ambilah telur dipucuk pohon yang besar itu dan jangan sampai pecah. Ditebangnyalah pohon tersebut sampai mendapatkan sebutir telur. Telur itu kemudian pecah dalam perjalanan pulang, dari telur itu keluar seorang puteri cantik yang kemudian dikenal dengan nama Konda Wulaeng atau Sangiang Ondo Wasa ( puteri perintang malam ) putri khayangan. Mereka menikah lalu dinobatkan menjadi Kasili Mědělu dan Sangiang Měngkila yang berarti Putra Guntur dan Putri Kilat. Dinamai demikian karena pakaian sang putri berkilau seperti emas dan pertemuan mereka ditandai gemuruh dari langit. Cerita ini juga menjadi bagian dari lahirnya nama sangihe, dan menjadi inspirasi untuk pemotongan kue adat Tamo.
( Toponimi,Cerita rakyat, dan data sejarah dari kawasan perbatasan Nusa Utara, Sub Dinas kebudayaan kab.Kepl. sangihe, 2006 )

d. Versi ke empat
Tahun 1300, Pangeran Gumansalangi dibuang oleh orang tuanya dari Cotabato – Mindanao, jauh ketengah hutan. Gumansalangi dibuang karena tabiatnya buruk. Ditengah hutan Gumansalangi menyadari kesalahannya sambil menangis-nangis dan tangisannya terdengar sampai kekayangan. Dia lalu ditolong oleh raja dari kayangan dengan mengirim putri bungsunya bernama konda kebumi untuk menemui Gumansalangi dalam penyamaran sebagai seorang perempuan yang berpenyakit kulit.

Gumansalangi mengajak perempuan itu untuk tinggal bersamanya. Tapi beberapa hari kemudian sang putri menghilang karena kembali kekhayangan. Dua kali putri melakukan hal itu kepada Gumansalangi. Ketiga kalinya sang putri datang lagi dalam rupa putri cantik atas perintah ayahnya. Sejak saat itu mereka menjadi suami isteri.

Setelah menikah, atas perintah sang raja khayangan mereka disuruh keluar dari hutan tersebut. Kepergian mereka ditemani oleh kakak sang putri bernama Bawangung – Lare yang menjelmah menjadi seekor naga. Mereka berangkat ketimur dan sampai ke pulau Marulung (pulau balut sekarang) Ditempat ini mereka tidak turun karena tidak ada tanda seperti yang disampaikan oleh ayah mereka.Tanda-tanda tersebut adalah nampak kilat saling menyambar dan gemuruh. Perjalanan di lanjutkan melewati Pulau Mandalokang (Pulau taghulandang sekarang) mereka tidak menetap disana karena tidak ada tanda dan terus ke pulau Karangetang disana tidak juga terlihat tanda. Perjalanan dilanjutkan ke pulau Tampungang Lawo menuju ke gunung Sahendalumang. Di puncak gunung, mereka menemukan tanda berupa kilat dari atas dan gemuruh dari bawah. Berdasarkan titah sang ayah, menetaplah mereka di tempat itu. Gumansalangi diangkat menjadi raja dengan gelar Medellu yang berarti bagaikan gemuruh, sedangkan Putri Konda dijuluki Mengkila yang berarti putri kilat. Kerajaan itu bernama kerajaan Tampungan Lawo.

Tahta kerajaan kemudian diserahkan kepada anaknya yang sulung Melintangnusa tapi kemudian Melintangnusa pergi ke Mindanao dan menikah dengan putri Mindanao bernama Putri Hiabĕ anak dari raja tugis. Adiknya Melikunusa pergi ke daerah Bolaang Mongondow dan menikah dengan putri Mongondow bernama Menong Sangiang.

Tahta kerajaan dari Melintangnusa digantikan oleh anaknya Bulegalangi. ( sumber cerita dari Bapak H.Juda dalam buku “ Manga wĕkeng Asaļ ‘u Tau Sangihĕ “).

Melihat penyampaian syair umum dalam berbagai sasalamate tamo yang diturunkan sejak masa lalu, memberikan gambaran tentang usaha Gumansalangi memecahkan masalah dan akhirnya mendapatkan apa yang diinginkan. Tentang telur pada pucuk tamo sudah dijadikan hiasan utama pada tamo masa lalu sbagai simbol kehidupan baru yang diamanatkan dalam kisah Konda Wulaeng. Jika pemaknaan filosofi Tamo adalah gambaran Gumansalangi dan konda wulaeng maka kemungkinan besar, dari beberapa versi cerita Gumansalangi diatas yang paling bersesuaian adalah versi ke tiga.

SEJARAH ISLAM TUA LENGANENG

Banyak pemerhati sejarah abad  baru sudah datang ke  daerah  kepulauan  Sangihe  dan  Talaud. Tetapi  banyak diantara  mereka tidak  sempat  melihat  keragaman  agama yang  berkembang  di  kepulauan  Sangihe dan Talaud sejak masa lalu  sampai  masa kini.

Seorang  pemerhati sejarah asal  Eropa yang  pertama kali  menulis secara rinci tentang keadaan  masa lalu  Sangihe  adalah  Daniel Brilman. Dalam bukunya berjudul De Zending op de Sangi  en Talaud eilanden, terbitan 1928. Mengemukakan  bahwa, jauh sebelum  agama Islam dan  Kristen  masuk dan berkembang  di Kepulauan  Sangihe  dan Talaud sudah berkembang agama  asli  Sangihe.

Agama ini  adalah  agama  yang  Polytheisme. Para  pemeluk agama ini  mengenal adanya beberapa  penguasa  kehidupan seperti Penguasa Langit dan  penguasa Laut. Agama  ini dipimpin oleh  seorang  Imam perempuan yang  disebut Ampuang. Agama  ini  beranggapan  bahwa untuk dapat  bertemu dengan sang  penguasa  harus  datang ditempat-tempat  yang  dianggap  paling tinggi  seperti di puncak-puncak  bukit. Agama ini  bukanlah  agama yang Animisme, anima atau  animus  dan bukan pula  kafir  seperti  tuduhan bangsa Eroa, karena  mereka  menyembah  satu  kekuatan yang  dianggap  sangat  berkuasa  meskipun sang  penguasa itu  tidak berwujud  dan  tidak dapat  diwakilkan  dengan sebatang  pohon yang  besar  atau batu-batu  besar untuk disembah. Sampai saat  ini masih  ada penduduk yang  masih  mematuhi aturan-aturan  agama  ini  meskipun  hanya sebatas menghargai warisan  kebudayaan  nenek  moyang.

Agama  ini  diperkirakan  sudah  ada sejak 600 sampai  700 tahun silam sebelum  berdirinya  kerajaan pertama Sangihe  yaitu  kerajaan Tampungang Lawo.
Seiring  dengan  perkembangan  saman  maka agama  ini  akhirnya  mulai terkikis  oleh  agama dunia masa kini yang  Monotheisme.

Agama  kedua  yang berkembang  di kepulauan  Sangihe adalah  Agama Islam Tua. Agama inipun  sudah  ada sebelum masuknya agama Islam di Kepulauan  Sangihe.

Ajaran  Islam pertama kali dikembangkan dikepulauan Sangihe sejak  tahun 1460 berdasarkan  ajaran  Islam  aliran Sunni. Ajaran Islam pertama  kali  masuk  di Sangihe berasal  dari  Philliphina dengan  latar  belakang hubungan  kekerabatan antara  orang Sangihe  dengan orang  Philliphina karena nenek moyang  orang  Sangihe berasal dari Philliphina, disamping  itu juga perdagangan, dan  kedekatan wilayah  telah  menunjang berkembangnya  ajaran  Islam dari Phillhipina. Diperkirakan  ajaran Islam pertama kali masuk dikepulauan sangihe berasal dari Pulau Mindanao.

Kedatangan  ajaran Islam kedua adalah dari Kepulauan  Maluku, terutama  dari Kesultanan Ternate dan Tidore. Latar  belakang berkembangnya ajaran Islam dari kepulauan  Maluku adalah : dimasa  lalu pernah terjalin  hubungan kerjasama antara kerajaan-kerajaan di Sangihe  dengan Kesultanan Ternate dan Tidore, terutama  dengan  kerajaan Tabukan dan  Kerajaan Kendar. Disamping  itu  juga  ada  beberapa  kerajaan di Sangihe  yang  pernah  dijajah  oleh Kesultanan Tidore. Hal  yang  sangat  memungkinkan  masuk  dan  berkembangnya ajaran  Islam di kepulauan  Sangihe  adalah melalui  proses  perdagangan.

Banyak  diantara  pemeluk Islam Indonesia  khusunya  pemeluk  Islam di Sulawesi  utara  yang  tidak  mengetahui  bahwa  ada agama  yang seperti agama Islam  yang  berkembang  di kepulauan  Sangihe tetapi  bukan  agama  Islam.  Agama  ini dinamakan agama  Islam Tua.

Oleh  proses waktu dan  tekanan pemerintah, maka agama ini  mengalami  beberapa  perubahan  nama. Pertama  kali agama ini  dikenal sebagai Masade, Islam  Handung  kemudian Penghayat dan  pada  akhirnya  agama ini dikenal oleh  sebagian orang  Sangihe sebagai Agama  Islam Tua. Meskipun sampai saat ini Agama  Islam  tua  tidak  pernah diakui secara  resmi sebagai Agama oleh  pemerintah. Pemerintah lebih mengakui Konghucu  dan  Taoisme.  Hal ini  terjadi juga terhadap  Islam  Kejawen  dan  agama  asli   lainnya di  Indonesia.

Dalam tesis yang  di tulis  Oleh Pendeta Don Javarius Walandungo  berjudul “ Islam Tua, Terpasung  dan  Merana” mengemukakan hal-hal  yang  sangat jelas  tentang  keberadaan agama Islam Tua diantaranya tentang  keberadaan  pemeluk  agama Islam Tua  yang terkucil dari kehidupan bermasyarakat dan  bernegara. Salah  satu hal  yang kurang pantas yang  diberlakukan  oleh  pemerintah adalah tentang  pernikahan dan status kewarganegaraan. Sekian  lama  mereka  harus  dinyatakan  sah  menikah  kalau  menikah  di pengadilan, tidak  sah  kalau  dinikahkan oleh pimpinan  agama. Pada Kartu tanda  penduduk mereka  harus  menulis  agama  Islam  padahal  mereka  bukan  agama Islam.  Pengecualian  ini  sudah dilakukan  pemerintah  sejak lama. Dimasa  kekuasaan  Winsulangi Salindeho  sistim  perkawinan  diperjuangkan   dan  diakui  sama  dengan  agama  lain.  Oleh  pemerintah  telah ditetapkan  3  orang  pembantu  pencatat  pernikahan  dalam kalangan  islam  tua  diantaranya bapak  A. Masihor,S.Pd  dan  Ibu. R. Kirimang, S.Pd.

Atas  pengecualian itu kemudian timbul  pemahaman, mengapa justeru agama Kong Hu Chu mendapatkan hak-hak  istimewah dari  pemerintah sebagai Agama, sementara  Agama Islam Tua sebagai Agama asli Indonesia tidak diberlakukan  sama. Keberadaan pemeluk Agama  Islam tua sangat  baik dan  bersahaja  ditengah kehidupan  bermasyarakat, tidak  berbeda  dengan  pemeluk  agama  Islam dan  agama Kristen lainnya. Mengapa harus dibunuh karena  tidak  memiliki kitab suci.

Agama  Islam  Tua pertama  kali  diajarkan dan dikembangkan secara nyata oleh seorang yang  bernama  Masade kira-kira  lima  ratus tahun  yang  lalu. Bersamaan  dengan  kejayaan Kerajaan Kendar (kerajaan di Sangihe) pada  masa  pemerintahan Raja  Syam Syach  Alam. Kerajaan  ini adalah  cikal bakal dari  kerajaan Wulaeng ( wulaeng  berarti emas).  Pada  masa  pemerintahan Raja Syam Syach  Alam (samang sialang nama julukan), kerajaan  ini dikenal  sebagai  kerajaan  yang  kaya. Singgahsana  raja dan  semua  perlengkapan Istana terbuat  dari  emas.  Sampai  satu  saat  sang  raja  melakukan  kesalahan. Konon, sebelum  raja  Syam Syach Alam melakukan  dosa, sempat  dinasehati  oleh  Masade, supaya jangan  melaklukan  kesalahan  lagi. Karena  raja tidak  mengindahkan  nasehat dari Masade,seminggu  setelah dinasehati kerajaan  ini ditenggelamkan  kedasar  laut oleh  suatu  bencana alam.

Masade dilahirkan sebagai yatim dan ditemukan  oleh  sepasang suami isteri diantara semak belukar ketika  masih bayi, nama aslinya adalah Mawu  Masade yang berarti Karunia Tuhan. Menjelang dewasa Masade memperdalam keyakinanya di Tugis, Phillhipina. Banyak keajaiban telah  dilakukan  oleh Masade sejak  kecil sampai  dewasa. Pada  umur  66 tahun, Masade  kembali ke Sangihe  dan  mengalihkan  ajarannya kepada seorang  yang  bernama Penanging. Dari  Penanging  inilah Ajaran  Islam  Tua  mulai  tersebar  luas. Semenjak wafatnya Masade  dan  Penaging  ajaran  agama Islam  Tua  kemudian di  teruskan  oleh Mahadure. Untuk  lebih  memperluas ajaran  ini  kemudian  oleh Mahadure , diadakan  pemuridan  dan terpilihlah tiga  murid  yaitu Makung,Handung dan Biangkati.

Inti dari  ajaran Agama Islam Tua adalah Kemurnian  Jiwa. Diusahakan  agar umat menjauhi  sedapat  mungkin aktifitas  yang  mengakibatkan  dosa, dan  pencerahan  hanya  dapat  ditemukan jika berada dalam satu  ritual  keagamaan. Kepandaian  seseorang tidak  dapat  menandingi kekuatan  yang ditemukan  dalam  setiap Ibadah melalui hubungannya  dengan  sang pencipta.

Tempat  ibadah agama Islam Tua  adalah  Mesjid, sedangkan alat yang  digunakan  untuk  memanggil umat  dalam ibadah  Shalat Jumat adalah Lonceng  bukan  Bedug. Agama  ini  dipimpin  oleh  seorang yang diberikan gelar  Imam. Kepemimpinan seorang  imam sangatlah  bijaksana dan  harus dipatuhi. Menjadi Imam Mesjid bukan dari  pemilihan  tetapi atas  kehendak Imam sebelumnya  atau berdasarkan  petunjuk langsung  Tuhan  yang  maha esa. Jabatan Imam tidak  menurun tetapi  dilihat dari kearifannya dalam  berjamaah dan aktifitasnya  dalam ibadah. Ibadah Shalat Jumat dimulai jam sembilan  pagi disamping  itu  juga  ada ibadah-ibadah setiap  kelompok  Jamaah. Ritual-ritual besar  yang sering  dilaksanakan  diantaranya  adalah : Sunatan, Puasa  yang  dilakukan  selama sepuluh  hari sebelum Idul Fitri dan yang paling meriah  adalah Ritual “Diko u Solo” atau  menyalakan  lampu (lilin atau  obor) pada sebuah wadah  yang  berbentuk pohon, juga perayaan Hari  raya  ketupat. Selain itu  dapat  melakukan  siarah kepusat  ritual  keagamaan di Pulau Enggohe. Dipulau  inilah  terdapat peninggalan leluhur agama Islam  Tua termasuk  beberapa ajaran asli dan tempat – tempat sacral.

Para  jamaah ketika datang  kemesjid, yang  perempuan  harus  menggunakan  jilbab dan  yang  laki-laki  ada yang  menggunakan  kain  sarung.

Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh  penganut  agama  Islam Tua, sudah  berlangsung  sejak  lama. Apapun  yang sering dilakukan bukanlah  hal  yang  menyesatkan  seperti tuduhan banyak  pihak.

Ada  satu  masa mereka harus  duduk  di dalam Gereja atas  undangan umat  Nasrani ada satu saat  pula umat  Nasrani  akan  berkunjung  kejamaah Islam  Tua karena  hari  raya. Dihari yang  fitri  nanti  semua umat Islam Tua akan  saling  berkunjung dan  bersalam-salaman agar  terbuka  semua  pintu  maaf.

Persebaran  pemeluk  agam  Islam Tua  meliputi  kampung  Pindang sampakang kec. Manganitu  Selatan (sekarang  sudah  punah) Kampung  Lenganeng, sebagai pusat Agama Islam Tua, Kampung Kalekube dan Pulau Enggohe Kecamatan Tabukan Utara,dan di kota Bitung. Sampai  tahun  2007 pemeluk  agama Islam  Tua  diperkirakan berjumlah tiga ribu jiwa. Sekarang  ini Agama  Islam  tua  secara  tidak langsung  dipaksa  bernaung dalam Organisasi Penghayat Kepercayaan  Kepada  Tuhan Yang  Maha Esa.

Agama Islam tua merupakan bentuk kepercayaan asli Sangihe,  yang  tidak dapat ditemukan  didaerah  lain  di Indonesia. Agama ini  adalah bagian dari keragaman  Agama dan  kebudayaan  Indonesia  yang diamanatkan  Pancasila dan UUD ’45. Islam   Tua pantas dihidupkan bukan di paksa  mati.

KEMATIAN RAJA-RAJA SANGIHE

Pembunuhan para raja dan tokoh masyarakat Sangihe di Bungalawang Tahuna masa penjajahan Jepang menyimpan banyak misteri yang sampai saat ini belum terungkap jelas. Sejumlah penulis, saksi mata, bahkan keturunan dari para korban bersilang pendapat kapan tepatnya tragedi mengenaskan itu terjadi. Ada memastikan kejadiannya berlangsung tahun 1942, lalu 1944 dan paling banyak berpendapat di tahun 1945. Tanggal-tanggalnya bervariasi 7 Juli 1942, 25 Agustus 1942, 9 November 1944, Desember 1944 dan terbanyak tanggal 19 Januari 1945.

Jumlah korban dan siapa-siapa yang dipancung pun dipertentangkan. Beberapa kalangan memastikan sepuluh orang yang dipenggal kepalanya, tapi banyak pihak dan saksi mata menyebut lebih. Bahkan sebelum eksekusi mereka, di Bungalawang (kini kelurahan di Kecamatan Tahuna Kabupaten Kepulauan Sangihe) pada hari bersamaan. (polisi militer) Tahuna terlebih dulu telah mengeksekusi satu keluarga besar terdiri 30 orang berasal dari Tabukan.

Pendapat seragam adalah korban terkenal yang dibunuh bersamaan, yakni: Raja Tahuna (Kendahe-Tahuna) Engelhard Bastiaan, Raja Tagulandang Willem Philips Jacob Simbat, Raja Manganitu Willem Manuel Pandengsolang Mocodompis, Raja Talaud P.G.Koagow, mantan Raja Tahuna Christiaan Nomor Pontoh, Jogugu (sebutan Kepala Distrik) Kendahe Anthoni, Jogugu Manalu (Tabukan Selatan) Karel Patras Macpal, serta istri dokter Gyula Cseszko bernama Emma Rosza Haday von Oerhalma, tenaga Zending di Tahuna Sangihe-Talaud asal Hongaria Eropa.

Ada menambahkan yang dieksekusi hari itu pun termasuk sang dokter sendiri (meski ditolak anak-anaknya dan saksi mata lain yang memastikan dokter Gyula tewas dalam kamp interniran di Tondano). Lalu terdapat nama guru agama G.Tatengkeng, kepala negeri Buang Kaliapas Jacobs yang versi lain telah dibunuh 25 Agustus 1942, Jogugu Tagulandang B.Jacobs, Jogugu Manganitu B.L.P.Jacobs (versi lain 1942); Jogugu Tamako H.J.P.Macahekum (selain versi Desember 1944). Kemudian ada Jogugu Ondong E.Marthing, Jogugu Taidi dan W.A.Kansil, ipar Raja Manganitu Willem Mocodompis yang memimpin Komite Nasional Siau. Data Belanda masih menambahkan nama B.Hengkenbala, seorang (kepala kelasi) KM Eiland Tahuna dari kesatuan KM-KNIL yang dieksekusi 19 Januari 1945.

Raja Tahuna Engelhard Bastiaan belum genap 30 tahun. Ia menduduki tahtanya tahun 1939 menggantikan ayahnya Albert Bastiaan yang wafat. Raja muda yang memperistri wanita berfam Parengkuan dari Minahasa itu, saat Jepang berkuasa sedari Mei 1942 hingga Juli 1943 dipercaya menjalankan pemerintahan di bekas Onderafdeeling Sangihe en Talaud-eilanden yang sebelumnya dikendalikan Kontrolir J.G.H.Kramps dan Kontrolir W.Langendonk. Lalu dengan tuduhan dibuat-buat ia ditangkap Kempetai. Ada versi, posisi (sebutan raja di masa Jepang) itu tidak lama dipegang, karena ia disebutkan sudah dieksekusi di tahun 1942 juga. Raja Willem Philips Jacob Simbat menjadi Raja Tagulandang sejak tahun 1934 menggantikan Hendrik Philips Jacob Malempe. Raja Levinus Israel Petrus Macpal dari kerajaan Tabukan kelahiran tahun 1891 adalah anak mantan Jogugu Manalu (Tabukan Selatan). Ia menjabat Jogugu Tabukan Selatan ketika naik tahta menggantikan raja sebelumnya Willem Alexander Kahendake Sarapil yang diberhentikan dan diasingkan Belanda ke Kolonedale Sulawesi Tengah. Pengangkatannya disebut tahun 1929, juga 15 September 1930, namun dari Almanak 1931 disebut ia masih sekedar  (pejabat, akting ) raja Tabukan di tahun itu.

Raja Manganitu Willem Manuel Pandengsolang Mocodompis kelahiran 11 Juni 1877 memerintah sejak 1910, versi Almanak 1931 dinobatkan 2 Mei 1914. Ia anak mantan raja Manganitu Manuel Soaha ‘Hariraya’ Mocodompis yang memerintah 1864-1880. Ia memindahkan ibukotanya ke Tamako tahun 1916. Dianggap mampu, ia pun dipercaya merangkap jadi pejabat Raja Tahuna periode 1928-1930, dan menerima bintang jasa penghargaan dari Residen Manado tanggal 19 Mei 1936.

Permaisuri ()nya adalah Ella Louise Kansil (12 April 1890-Jakarta 2 Mei 1969), putri mantan Raja Siau Lodewijk Kansil. Putri mereka Yolanda Wilhelmina Joachine Mocodompis (Manganitu 10 Januari 1910-Tahuna 20 November 1986) meraih gelar meester in de rechten (Mr, sarjana hukum) dari Universitas Leiden Negeri Belanda. Menurut keluarganya, Raja Willem Mocodompis ditangkap Kempetai bulan Desember 1944 dengan tuduhan mata-mata Sekutu, dipenjarakan sebulan, lalu dieksekusi pancung tanggal 19 Januari 1945 di Tanjung Tahuna bersama mantan Raja Tahuna Christian Pontoh, Raja Tahuna E.Bastiaan, Raja Tabukan Levinus Macpal serta 6 orang tokoh lainnya.

Christiaan Nomor Pontoh adalah tokoh politik terkenal dari Tahuna. Mantan raja lulusan Hoofdenschool (Sekolah Raja) Tondano dan Landbouwschool Buitenzorg ini pernah dipilih menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat, DPR Hindia-Belanda) tahun 1920-1924 duduk di ‘fraksi’  . Tanggal 13 Desember 1923 ia memperoleh Ridder in de Orde van Oranje-Nassau. Ia naik tahta kerajaan Tahuna (Kendahe-Tahuna) tahun 1914 (versi lain baru dinobatkan 1917) menggantikan ayahnya Soleman (Salmon) R.Pontoh. Karena kritis terhadap Belanda, di tahun 1928 diturunkan dari tahtanya lalu diasingkan ke Luwuk Sulawesi Tengah, dan baru kembali di Tahuna tahun 1933.

W.A.Kansil, seorang pejuang yang memimpin Komite Nasional Siau (KNS). Dalam kapasitas demikian tanggal 11 Desember 1941 ia mengambilalih kekuasaan di Siau dari tangan Belanda. Jepang kemudian menunjuknya sebagai koordinator pemerintahan di Satal sampai diambilalih  (Asisten Residen) Hirano. Setelah Raja Willem Mocodompis ditahan, ia ditunjuk sebagai Wakil Syutjo (wakil raja) Manganitu di Tamako menggantikan iparnya tersebut (yang resmi disebut pengganti sebagai raja adalah Jogugu Manganitu Alexander ‘Ambong’ Ambrosius Darondo). Di tahun 1945 Kansil ditangkap dengan tuduhan terlibat pemberontakan di Sangihe Besar serta dieksekusi mati.

R.G.Koagow, Raja Talaud, adalah ambtenar (pejabat) kolonial berasal Minahasa. Semula ia menjabat sebagai Bestuur Asistent, posisi penting dibawah komando langsung Kontrolir. Kemudian oleh Jepang diangkat menjadi Syutjo (Raja) Talaud menggantikan Metusala Tamawiwij, raja sebelumnya yang dipecat.

Dokter Gyula Cseszko kelahiran tahun 1902 asal Hongaria, diutus tahun 1931 oleh lembaga gereja bekerja sebagai tenaga dokter Zending di Sangihe. Ia dibantu istrinya Emma Rosza Haday von Oerhalma (kelahiran 1907). Dirintisnya rumah sakit yang dinamai Liung Kendage yang pembangunannya dimulai tanggal 10 Januari 1933. Di masa kesulitan besar, bersama istrinya tetap berkarya.

Namun dengan tuduhan memiliki bendera Belanda, dituduh melakukan kontak dengan Sekutu serta konon pernah meneriakkan ‘Hidup Ratu’ (Ratu Belanda Wilhelmina), tanggal 29 Maret 1944 ditangkap Kempetai. Menurut putrinya yang juga bernama Emma, saksi melihat dokter tersebut di Airmadidi ketika diseret dari mobil, dan sebulan kemudian ada di penjara Tondano. Ia meninggal di sana setelah luka parah terkena pecahan bom yang dijatuhkan Sekutu. Istri dokter Gyula, yakni Emma Rosza masih tetap bekerja di rumah sakit setelah suaminya ditangkap.

Dipercaya beberapa staf tidak menyukai diperintah wanita kulit putih dan menyebar rumor ia memiliki radio yang sebenarnya tidak dipunyainya. Tanpa periksa, tanggal 8 Agustus 1944 ia diciduk Kempetai Tahuna dan disiksa bahkan disirami air keras dan dipukuli. Anak gadisnya Emma yang berulangtahun ke-13 diambil dari perawatannya. Lalu tanggal 9 November 1944 (catatan keluarganya) dipenggal di Tanjung Tahuna bersama para tokoh Satal lain.