Selamat Datang Pemimpin Kabupaten Kepulauan Sangihe

11.png

33.png

22.png

44.png

lpse.png

jdih.png

1233.png

Air Terjun Bala Apapuhang

admin 2016.02.28 16:32 Views : 305

AAT.jpg Konon dibalik air terjun ini merupakan tempat persembunyian manusia asli sangihe yang disebut Apapuhang. Air Terjun ini terisolir dan keramat. Disebelah timur kaki gunung Awu,berdiamlah sekelompok masyarakat primitif dengan cara hidup yang sangat tradisional. Mereka hidup dengan damai pada sebuah lembah bernama Balang Apapuhang, di pulau Sangihe.Aktifitas kehidupan sehari-hari didominasi oleh kegiatan berburu dan pemenuhan kebutuhan lainnya, seperti mencari buah dihutan.


Di lembah tempat mereka hidup masih diliputi oleh hutan yang sangat lebat,banyak pepohonan besar. Dari keadaan seperti itu memungkinkan hidup banyak binatang yang kemudian merupakan binatang buruan sebagai makanan sehari-hari. Pada suatu masa, wilayah perburuan mereka semakin meluas dan sampailah mereka di pantai yang kini merupakan bagian dari pantai Naha. Setibanya di pantai, mereka langsung menceburkan diri di air. Tanpa sengaja salah seorang dari mereka membuang-buang ludah. Yang terjadi adalah, mulut orang tersebut kemasukan air asin. Rasa asin merupakan hal yang baru menyentuh lidah mereka.

 

Karena selama ini makanan yang dikonsumsi adalah makanan mentah tanpa dimasak sebelumnya. Seperti daging binantang buruan,dedaunan, dan umbi-umbian. Penyebab cara makan seperti itu karena mereka belum mengenal adanya api. Meskipun cara hidup mereka sangat sederhana tetapi mereka termasuk masyarakat yang hidup disatu tempat tanpa berpindah-pindah. Tempat tinggal mereka diatas pohon pada dahan – dahan yang besar.


Hari mulai gelap, mereka baru pulang ketempat tinggal. Tanpa buruan dan tanpa apapun yang dibawah serta, mereka memberanikan diri pulang ke tempat tinggal. Saat bangun pagi mereka menceritakan situasi yang mereka temukan. Maka berbondongbondonglah warga di lembah itu menuju lokasi yang baru ditemukan. Seperti biasanya
mereka menceburkan diri di air sampai kemudian pulang kehutan tempat tinggal mereka. Kegiatan itu berlanjut terus setiap hari. Merekapun merasa kelelahan untuk datang ketempat tersebut dengan berjalan kaki, terpikir bagaimana caranya supaya cepat sampai dipantai dan tidak banyak mengeluarkan tenaga.


Hal pertama yang dilakukan adalah membuat alat transportasi, tercetuslah ide untuk membuat perahu. Seluruh warga saling membantu untuk membuat perahu. Setelah perahu tersebut selesai dibuat mereka kebingungan akan dilepas dimana perahu tersebut. Karena disekitar lembah tersebut terdapat tebing yang sangat terjal maka dialirkanlah salah satu sumber air melalui salah satu tebing membentuk air terjun yang dikemudian hari disebut air terjun “apapuhang”. Airpun mengalir membentuk sungai kecil menuju lembah sampai ke pantai. Tetapi perahu yang dilepas tidak juga beranjak dari tempat karena air yang mengalir sedikit.


Tidak kehabisan akal merekapun mengikatkan perahu di atas pohon yang tinggi dan salah satu ujung tali diikat pada pohon yang lain dibelakang perahu lalu ditarik seperti ketepel. Orang yang ada di bagian belakang perahu bertugas memotong tali untuk melontarkan perahu sampai kepantai. Yang terjadi, perahu tersebut jatuh di tempat itu juga, mengakibatkan jatuhnya korban. Dari kejadian itu mereka mulai pesimis dan beranggapan bahwa mustahil untuk dapat sampai kepantai dengan cepat tanpa berjalan kaki. 

 

Sampai suatu saat muncul perubahan, muncul ide untuk membawah air laut ketempat tinggal agar dengan cepat mereka dapat mandi di air tersebut. Satu hal yang dilakukan adalah membuat wadah untuk membawah air laut ketempat tinggal mereka. Benda yang mereka buat untuk mengambil air adalah sejenis keranjang yang dianyam
dari bahan rotan. Dikemudian hari alat yang mirip keranjang dinamakan bika.


Seluruh warga saling membantu mengambil air di pantai Naha dengan menggunakan wadah keranjang. Setiap kali mereka mengambil air, tak satupun air yang tertinggal dikeranjang karena wadah tersebut banyak lobangnya. Tetapi tanpa disangka, air laut dapat juga dibawah ke tempat tinggal mereka. Untuk menampung air laut terse but
dibuatlah kolam dari tanah. Pada akhirnya air laut dapat ditampung di sebuah kolam tanah. Sejak saat itu jadilah tempat tersebut sebagai tempat pemandian.


Sejak saat itu satu demi satu teknologi mulai ditemukan dan digunakan untuk tetap bertahan hidup di lembah Balang Apapuhang. Sistim kekerabatan mulai diatur sampai kepada persekutuan hukum yang mengikat kebersamaan. Mereka membangun sebuah kerajaan yang dikepalai oleh seorang raja. Membangun istana megah yang berbalutkan emas. Mereka kemudian menempati sebuah daerah didekat air terjun. Dikemudian hari hilanglah negeri tersebut dan menjadi legenda awal pengenalan akan teknologi dipulau sangihe.

No. Subject Author Date Views
5 Pantai Raja file admin 2016.02.28 610
4 Puncak Pusunge file admin 2016.02.28 413
3 Gunung Bawah Laut Banua Wuhu file admin 2016.02.28 459
» Air Terjun Bala Apapuhang file admin 2016.02.28 305
1 Air Terjun Kadadima file admin 2016.02.28 211

Service Link

X
Login

You will be still signed in even when the browser is closed. It is not recommended to use this if you are using a public computer, for your personal information could be violated

X